Tangerang, PORNUS Puskesmas Sukadiri menyelenggarakan pelatihan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di MAN 3 Kabupaten Tangerang sebagai upaya memperkuat kapasitas guru dan siswa dalam memberikan dukungan emosional kepada remaja yang mengalami tekanan psikologis.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program promotif dan preventif kesehatan mental yang kini menjadi fokus penting di wilayah Kecamatan Sukadiri, seiring meningkatnya kasus stres dan kecemasan di kalangan pelajar.

Kepala Puskesmas Sukadiri, dr. Dicky Soegiarto, mengatakan pelatihan P3LP digelar sebagai respons atas tren meningkatnya masalah kesehatan mental remaja, khususnya yang berkaitan dengan tekanan akademik dan lingkungan sosial sekolah.

“Dalam dua tahun terakhir, kami mencatat peningkatan konsultasi non-medis serta laporan dari guru terkait perilaku siswa yang mengarah pada stres belajar, kecemasan, hingga indikasi perundungan,” ujar dr. Dicky saat dihubungi, Senin (8/12).

Melalui pelatihan tersebut, Puskesmas Sukadiri ingin memastikan guru dan siswa tidak hanya mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis, tetapi juga memahami cara memberikan pertolongan pertama yang tepat sebelum dilakukan rujukan ke tenaga profesional.

“P3LP mencakup tiga kompetensi inti, yaitu kemampuan mengenali gejala awal gangguan psikologis, memberikan dukungan emosional, serta mendorong korban untuk mencari bantuan lanjutan,” jelasnya.

Menurut dr. Dicky, remaja cenderung lebih terbuka kepada orang-orang terdekat seperti teman sebaya atau guru. Oleh karena itu, keterampilan dasar dalam mendengarkan, menenangkan, dan memberikan respons yang empatik menjadi sangat penting.

Sementara itu, Kepala MAN 3 Kabupaten Tangerang, Dra. Hj. Siti Maemunah, menilai pelatihan P3LP sangat relevan dengan kondisi siswa saat ini. Ia menyebut perubahan pola belajar pascapandemi dan tekanan sosial di ruang digital turut berdampak signifikan terhadap kesehatan mental remaja.

“Kami melihat ada siswa yang mengalami tekanan akademik dan sosial cukup serius, namun tidak berani menyampaikan kondisinya. Pelatihan ini sangat membantu sekolah dalam membangun lingkungan yang aman dan suportif,” ujarnya.