Portalnusantara.id Cilegon — Banjir yang kembali merendam kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kota Cilegon, khususnya di Kecamatan Ciwandan, memantik kemarahan mahasiswa dan masyarakat. Mereka menilai pemerintah daerah selama ini cenderung menyederhanakan bencana dengan dalih cuaca ekstrem, tanpa menyentuh akar persoalan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan pasir dan batu yang masif dan diduga banyak beroperasi tanpa izin resmi.
Idan Wildan, mahasiswa asal Ciwandan, menegaskan bahwa sepanjang jalur PCI–Anyer, kondisi kiri dan kanan jalan dipenuhi bekas galian tambang pasir dan batu. Bahkan, sebagian di antaranya masih aktif hingga hari ini. Perbukitan dan gunung yang terus dikeruk dinilai telah menghilangkan fungsi daerah resapan air, sehingga banjir menjadi ancaman rutin yang tak terelakkan.
“Jangan terus beropini bahwa banjir ini murni akibat cuaca. Publik bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana gunung dan bukit dikuliti tanpa kendali. Alam marah karena dirusak,” tegas Wildan.
Ia menyebut, banjir di Kecamatan Ciwandan yang sempat viral di media sosial adalah bukti nyata dampak kerusakan lingkungan di sekitar wilayah pertambangan, baik yang sudah ditinggalkan maupun yang masih aktif beroperasi. Menurutnya, pembiaran terhadap tambang-tambang tersebut sama saja dengan menyiapkan bencana berulang bagi masyarakat.
Mahasiswa mendesak Gubernur Banten dan Wali Kota Cilegon untuk tidak lagi menutup mata. Mereka menuntut evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aktivitas pertambangan di wilayah Cilegon dan sekitarnya.
“Pertama, tutup secara permanen tambang pasir dan batu yang merusak lingkungan dan diduga tidak memiliki izin. Kedua, aparat penegak hukum harus turun tangan, periksa dan tindak tegas pengusaha tambang yang melanggar aturan hukum dan lingkungan. Ketiga, buka secara transparan ke publik soal perizinan, AMDAL, dan pengawasan tambang,” tegasnya.
Wildan juga menyoroti arah pembangunan yang dinilai rakus dan abai terhadap keselamatan warga.
“Sudah cukup gunung dirusak oleh pengusaha tambang. Sudah cukup laut kita diurug demi kepentingan industri dan pabrik. Mau sampai kapan semua ini dibiarkan?” ujarnya dengan nada keras.
Mahasiswa berharap banjir yang kembali melanda Ciwandan menjadi momentum evaluasi serius bagi pemerintah daerah. Mereka menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh terus berjalan dengan mengorbankan lingkungan dan keselamatan masyarakat.




