Morowali , PORNUS– Setiap pagi, kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bergeliat seperti kota yang tak pernah tidur. Deru mesin, panas tungku, dan langkah cepat para pekerja menjadi irama keseharian. Di tengah hiruk-pikuk itu, Ardi Alam Jabir berdiri dengan helm merah di kepalanya—tanda tanggung jawab dan kepercayaan.

Sekarang, Ardi menjabat sebagai Supervisor Research and Development (R&D) PT QMB New Energy Materials, sebuah perusahaan pengolahan nikel. Namun, perjalanan menuju posisi ini bukanlah cerita instan tentang kesuksesan, melainkan kisah panjang tentang keberanian bermimpi, kerja keras, dan keteguhan memilih pendidikan sebagai jalan hidup.

Lahir dari Keluarga Sederhana, Menolak Menyerah pada Keadaan

Ardi berasal dari keluarga sederhana di Makassar. Orang tuanya pernah merantau menjadi penambang rakyat di Kalimantan, mengais pasir emas dengan peralatan seadanya. Setelah kembali ke kampung halaman dan membuka toko sembako kecil, harapan keluarga bertumpu pada satu hal: anak-anak mereka bisa memiliki masa depan yang lebih baik.

Bagi Ardi, mimpi itu terwujud lewat pendidikan. Dengan prestasi akademik yang konsisten, ia diterima di Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin melalui Beasiswa Bidikmisi. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya, melainkan jembatan pertama menuju dunia yang lebih luas.

Pilihan Sulit yang Mengubah Hidup

Di akhir masa kuliah, Ardi dihadapkan pada keputusan besar: mengikuti program student exchange ke Jepang atau lulus tepat waktu. Keputusan itu tak mudah. Beasiswa telah berakhir, sementara biaya hidup dan kuliah tetap berjalan.

Ardi memilih melangkah lebih jauh.

Untuk bertahan, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online, membagi waktu antara kuliah dan mencari penghasilan. “Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” katanya.