TANGERANG, (PORNUS)– Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Mujakkir Zuhri, menegaskan bahwa pemahaman dan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan merupakan fondasi krusial untuk menjaga persatuan dan kekuatan bangsa.

Penegasan ini disampaikan Mujakkir saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Pertemuan Kampung Duri, Desa Pakualam, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (9/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya MPR RI untuk membumikan nilai-nilai dasar negara kepada masyarakat luas.

Sosialisasi yang dihadiri oleh konstituen, buruh, tani, nelayan, hingga karyawan tersebut menekankan pentingnya implementasi nilai-nilai dasar negara di tengah tantangan global dan dinamika sosial yang terus berkembang.

“Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar dihafal, tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah letak kekuatan bangsa menghadapi berbagai tantangan,” ujar Mujakkir dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara harus menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, keadilan, dan musyawarah mufakat, harus dihidupkan kembali, khususnya dalam membangun ekonomi kerakyatan dan menjaga keharmonisan sosial. Sementara itu, UUD 1945 berfungsi sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, Mujakkir juga menekankan pentingnya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan. Keberagaman suku, agama, dan latar belakang sosial harus dipandang sebagai kekayaan bangsa yang wajib dirawat bersama.

Secara spesifik, Mujakkir mendorong para buruh, tani, dan nelayan yang hadir untuk menerapkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam menghadapi tantangan ekonomi di sektor masing-masing.

“Jika nilai gotong royong dan saling percaya dijalankan, saya yakin sektor pertanian , perikanan dan lainnya akan semakin kuat dan mandiri,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung hangat. Para peserta aktif menyampaikan berbagai aspirasi dan pandangan terkait implementasi nilai-nilai kebangsaan, mulai dari persoalan ekonomi hingga penguatan persatuan masyarakat.