LEBAK , PORNUS — Sebanyak 1.070 siswa SMP Negeri 2 Rangkasbitung menyambut antusias implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai rutin disalurkan di lingkungan sekolah, Selasa (24/2/2026). Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pemenuhan gizi peserta didik.
Makanan tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bim Rangkasbitung. Pihak sekolah yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ini menyatakan dukungan penuh atas keberlangsungan program tersebut.
Kepala SMPN 2 Rangkasbitung, Nazarudin, menyampaikan apresiasinya terhadap program unggulan yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto tersebut. Ia menilai langkah ini sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam mendukung kemajuan dunia pendidikan melalui intervensi gizi.
“Secara pribadi dan kelembagaan, kami mengapresiasi setinggi-tingginya implementasi Program Makan Bergizi Gratis. Ini adalah langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air,” ujar Nazarudin saat ditemui di ruang kerjanya.
Terkait teknis pelaksanaan, Nazarudin menjelaskan bahwa makanan bergizi tersebut tiba di sekolah setiap hari sekitar pukul 10.00 WIB untuk dikonsumsi siswa pada jam istirahat. Sebelum dibagikan, dewan guru melakukan pengecekan kualitas secara ketat guna memastikan makanan yang diterima siswa aman dan layak konsumsi.
Nazarudin berharap program ini dapat terus berlanjut dengan inovasi pada keberagaman menu. Menurutnya, variasi menu sangat penting untuk menjaga selera makan siswa dan mencegah rasa bosan.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan program prioritas nasional yang telah diluncurkan sejak Januari 2025. Program ini dirancang untuk meningkatkan kecerdasan anak Indonesia sebagai investasi jangka panjang bangsa.
Selain fokus pada prestasi akademik, program ini bertujuan menekan angka stunting dan gizi buruk di Indonesia. Sasarannya mencakup berbagai kelompok rentan, mulai dari balita, anak usia sekolah, hingga ibu hamil dan menyusui, guna mewujudkan target Generasi Emas Indonesia 2045.

