TANGERANG, PORNUS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit Leptospirosis menyusul bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di daerah tersebut. Langkah antisipasi ini diambil meskipun hingga kini belum ada kasus Leptospirosis yang terkonfirmasi secara laboratorium.
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, MARS, menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keberadaan bakteri Leptospira dilakukan di Cipriza.
"Saat ini masih bersifat dugaan. Hasil pemeriksaan di Cipriza nanti baru bisa memastikan apakah itu Leptospira atau bukan," ujar dr. Hendra di Kabupaten Tangerang, Selasa (3/2).
Sebagai langkah antisipasi, setiap warga yang mengalami gejala demam dan memiliki riwayat kontak dengan air banjir akan diperlakukan sebagai suspek Leptospirosis.
"Jika ada warga demam di wilayah bekas banjir, kami anggap dulu sebagai dugaan Lepto. Darahnya langsung diambil dan diberikan pengobatan, termasuk antibiotik," jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan sejak dini ini penting. Jika hasilnya negatif tidak menjadi masalah, dan jika positif penanganan sudah dilakukan sejak awal.
Selain Leptospirosis, dr. Hendra juga memastikan bahwa penyakit zoonosis lain seperti virus Nipah belum ditemukan di Kabupaten Tangerang. Hingga saat ini, belum ada laporan kasus Leptospirosis yang pasti, termasuk dugaan kasus yang sempat beredar.
Angka Stunting Menurun Drastis
Dalam kesempatan yang sama, Dinkes Kabupaten Tangerang melaporkan adanya penurunan signifikan pada angka stunting. Prevalensi stunting di wilayah tersebut tercatat turun dari sekitar 9,4 persen menjadi 6,8 persen pada akhir tahun 2024, mencakup sekitar 7.000 balita.






