TANGERANG, (PORNUS) - Arus digitalisasi yang kian masif dinilai menjadi tantangan serius dalam upaya pelestarian budaya lokal dan kesenian daerah. Perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat, khususnya generasi muda, dikhawatirkan berdampak pada menurunnya minat terhadap seni dan budaya tradisional.
Menyikapi hal tersebut, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Tangerang (DKKKT) mengambil peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga eksistensi budaya lokal. DKKKT berupaya menjadikan pembinaan berkelanjutan dan pelibatan aktif masyarakat sebagai kunci utama pelestarian.
Ketua DKKKT, Hj. Aida Hubaedah, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus disikapi secara bijak agar tidak menggerus identitas budaya daerah. Ia mengakui adanya tren penurunan antusiasme di kalangan anak muda terhadap warisan lokal.
“Di era digital saat ini, antusiasme generasi muda terhadap kebudayaan lokal dan kesenian daerah cenderung mengalami penurunan. Karena itu, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Tangerang hadir sebagai wadah pembinaan dan pelestarian seni budaya agar tetap hidup dan berkembang,” ujar Aida Hubaedah, Sabtu (31/1/2026).
Perempuan yang akrab disapa Bunda Ratu ini menjelaskan, DKKKT secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan seni dan budaya. Kegiatan tersebut meliputi pementasan, pelatihan, hingga pembinaan komunitas seni. Program-program ini dirancang sebagai ruang ekspresi bagi para seniman daerah sekaligus sarana edukasi budaya bagi masyarakat luas.
Aida menambahkan, pelibatan generasi muda menjadi fokus utama dalam setiap program yang dijalankan. Selain melibatkan seniman lokal, DKKKT membuka ruang partisipasi luas bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk terlibat langsung dalam proses kreatif dan pengembangan seni daerah.
“Melalui kegiatan kesenian dan pembinaan yang berkelanjutan, kami berharap tumbuh kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya lokal sebagai identitas dan kekayaan daerah,” katanya.
Lebih lanjut, Bunda Ratu menilai bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku seni semata, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas elemen, termasuk masyarakat dan generasi muda. Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, seni dan budaya lokal diyakini mampu bertahan dan beradaptasi di tengah modernisasi.
“Jika generasi muda mencintai dan menghargai seni budaya lokal, maka warisan budaya daerah akan tetap lestari dan menjadi kebanggaan Kabupaten Tangerang,” pungkasnya.

