Tangerang, PORNUS — Persoalan banjir yang kerap menggenangi akses menuju SMAN 21 Kabupaten Tangerang dan Puskesmas Sukadiri saat musim hujan mendapat perhatian DPRD Kabupaten Tangerang. Keluhan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukadiri RKPD Tahun Anggaran 2027 yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026.


Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Kabupaten Tangerang Muhammad Ropiudin Akbar dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyatakan pembangunan drainase di kawasan tersebut akan direalisasikan pada tahun berjalan melalui mekanisme Anggaran Belanja Tambahan (ABT), tanpa harus menunggu tahun anggaran 2027.

“Pembangunan drainase di area SMAN 21 Kabupaten Tangerang, Kecamatan Sukadiri, akan kami realisasikan pada tahun ini melalui mekanisme ABT. Penanganan ini penting karena berkaitan langsung dengan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat,” ujar Muhammad Ropiudin Akbar.

Selain dukungan dari Fraksi PKB, pembangunan drainase tersebut juga mendapat tambahan alokasi dari anggota DPRD Kabupaten Tangerang Hj. Aida Hubaedah dari Fraksi Demokrat. Ia menegaskan bahwa Fraksi Demokrat turut mengalokasikan pagu anggaran melalui mekanisme ABT sebagai bentuk sinergi lintas fraksi dalam penanganan banjir.

“Fraksi Demokrat mendukung percepatan pembangunan drainase di kawasan SMAN 21 dan Puskesmas Sukadiri melalui alokasi ABT, agar permasalahan banjir yang berulang dapat segera ditangani,” kata Hj. Aida Hubaedah.

Pihak SMAN 21 Kabupaten Tangerang membenarkan bahwa banjir kerap terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi. Salah seorang guru menyampaikan bahwa kondisi banjir pada tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Jika sebelumnya genangan hanya setinggi mata kaki dan cepat surut, kini air bisa mencapai setinggi betis orang dewasa dan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut,” ujarnya.

Menurutnya, banjir tersebut disebabkan oleh saluran drainase yang tidak berfungsi optimal.

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah bersama masyarakat sekitar telah beberapa kali melakukan gotong royong membersihkan saluran air. Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara permanen karena penanganan membutuhkan pembangunan drainase baru di luar kawasan sekolah.