SERANG, (PORNUS)– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Provinsi Banten, termasuk Kabupaten Tangerang, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan terjadi pada 17–22 Januari 2026. Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya curah hujan secara signifikan dalam sepekan terakhir yang telah memicu banjir dan bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah.

BMKG mencatat, curah hujan harian di Provinsi Banten berada pada kategori lebat hingga sangat lebat. Kabupaten Pandeglang mencatat curah hujan hingga 124 milimeter per hari, Kabupaten Lebak mencapai 145 milimeter per hari, sementara Kabupaten Serang mencatat curah hujan tertinggi, yakni 148 milimeter per hari. Kondisi tersebut turut berdampak pada wilayah Kabupaten Tangerang, yang dalam beberapa hari terakhir mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Dampak cuaca ekstrem telah dirasakan di sejumlah daerah. Banjir masih menggenangi Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, serta Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Selain itu, tanah longsor dilaporkan terjadi di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut secara terus-menerus.

Faktor Atmosfer yang Memengaruhi Cuaca di Kabupaten Tangerang

BMKG menjelaskan, potensi cuaca ekstrem di Banten, termasuk Kabupaten Tangerang, dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah dinamika atmosfer regional dan global. Salah satu faktor utama adalah penguatan Monsun Asia yang meningkatkan aliran massa udara basah dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia bagian barat.

Selain itu, BMKG memantau adanya potensi seruakan udara dingin (cold surge) dari Asia yang mempercepat pergerakan Monsun Asia melintasi wilayah ekuator. Kondisi ini memperkuat pembentukan awan hujan, terutama di wilayah daratan dan pesisir utara Banten, termasuk Kabupaten Tangerang.

Faktor lain yang berperan adalah anomali suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di perairan sekitar Indonesia. Suhu laut yang hangat meningkatkan proses penguapan dan menambah kandungan uap air di atmosfer, sehingga mendukung terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.

BMKG juga mengidentifikasi keberadaan Bibit Siklon Tropis 965 yang diprakirakan bergerak secara persisten dan memengaruhi pola angin di wilayah Indonesia bagian barat. Bibit siklon ini memicu terbentuknya daerah konvergensi yang memanjang dari pesisir barat Sumatera hingga wilayah selatan Pulau Jawa, yang turut memengaruhi cuaca di Kabupaten Tangerang.

“Kelembapan udara yang tinggi serta kondisi atmosfer yang labil sangat mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama awan konvektif pada skala lokal,” tulis BMKG dalam keterangannya.